Sabtu, 04 September 2010

Kampanye Seorang Caleg


ada yang tersisa dari masa kampanye CALEG, Baco seorang calon legislatif berkampanye guna mempromosikan dirinya agar di pilih di sebuah desa yang agak terpencil. Karena Baco mantan aktivis mahasiswa maka suaranya menggelegar dan berapi-api, dan inilah isi kampanyenya:
Baco : "Bapak-bapak,Ibu-ibu jika saya terpilih nanti,saya akan membangun jalan dan jembatan agar akses ke kampung ini lebih mudah untuk menjual hasil pertanian ke kota."
Salah seorang dari masyarakat yang hadir, nyeletuk "Tapi pak di kampung kita tidak ada sungai, jadi untuk apa dibangun jembatan?"
Spontan, Baco : "Jangan khawatir! Jika tidak ada sungai di kampung ini, kita akan bangun jembatan sekaligus dengan sungainya!"
Masyarakat : "!!??##%%!!!"
(memangnya ini kota, mo bangun jembatan penyeberangan)

Kejujuran Seorang Legislator

Ini adalah berita kecelakaan lalu lintas (lakalantas). Mengingat angka lakalantas akhir-akhir ini semakin tak terkendali, maka dianjurkan untuk lebih berhari-hati di jalanan. Utamanya yang bepergian dengan kendaraan besar jika melewati daerah Camba, Sulsel, yang terkenal dengan sejumlah tikungan tajam.
Rombangan bus ANGGOTA DPR berkunjung ke sebuah daerah di Sulawesi Selatan untuk kampanye Pilkada. Karena mereka lewat Camba kabupaten Maros, dan tekstur Jalan menuju daerah berliku-liku dan penuh jurang. Diantara para anggota DPR itu menempati dapil ini sebagai sasaran kampanyenya, dan setelah mereka terpilih rupanya sudah melupakan semua Janji-janji kampanyenya.
Ditengah perjalanan Bus yang mereka tumpangi oleng dan naas, mobil tersebut masuk terjerembab masuk jurang. Beberapa penduduk yang mendengar suara bus yang jatuh itu segera menolong mereka dengan menguburkan para penumpang bus ditempat itu juga. Sehari kemudian polisi datang ke tempat kejadian lalu menanyakan ke para penduduk setempat.
Polisi : "Kemarin ada kecelakaan bus rombongan ANGGOTA DPR, bagaimana dengan penumpangnya, apakah masih ada yang hidup?"
Penduduk: "Iya kemarin sih ada beberapa penumpang yang merintih: 'tolooong saya pak, saya masih hiduuup.'"
Polisi : "Lalu kemana penumpang yang hidup itu sekarang?"
Penduduk: "Sudah kita kubur, Bapak kan tau sendiri kejujuran aeorang anggota DPR. Bilangnya A tapi nyatanya B. Paling mereka kemarin ngaku hidup, padahal sih sebenarnya sudah mati. Jadi kita kubur saja!"
Polisi : ahk!!???

Pembalasan Mantan Anggota DPR


Cerita ini berawal dari seorang Mantan anggota DPR yang kena Recal dari partainya. Dia direcal karena melawan kebijakan ketua partai. Namun beruntung si mantan aktivis partai ini karena lulus bekerja sebagai pegawai Pos dan Giro. Bersamaan dengan itu, sang ketua partai yang memecatnya menjadi tokoh penting di Indonesia, dan begitu hebatnya ketua partai ini dicetak fotonya dalam bentuk Prangko.. “Inilah saatnya balas dendam ke pak Ketua Partai!” ancamnya dalam hati.
Sudah lima tangkai stempel sampai patah, logam cap sampai cacat dibuatnya, karena tiap kali melihat prangko bergambar orang pakai peci ia langsung menghajarnya dengan stempel, sekuat tenaga, berkali-kali, sembari berteriak, "Rasain lu!"
Namun celakanya, si Pegawai kantor pos itu dipecat kembali karena kelewat semangat mencap prangko sehingga kantor terus-terus dirugikan.

Zaman Presiden anu


Seorang bapak berumur setengah baya berkata,
"Hidup paling senang waktu jamannya Soekarno dan Soeharto. Tapi Jamannya Habibie, Gusdur dan Megawati hidup yang paling menyedihkan kurasakan."
Seorang pemuda datang bertanya,
"Mengapa bapak katakan begitu.”
“ Nak, kalau kamu mau tau dengar. Pada Jamannya Soekarno aku masih anak-anak hidupku senang karena aku masih dimomong sama bapakku, Jamannya Soeharto hidupku senang karena jaman ini aku dikawinkan oleh bapakku tapi kalau jamannya Habibie, Gusdur dan Megawati, SBY.. kesusahan selalu menerpa hidup, bayangin aku harus bekerja untuk menghidupi keluargaku isteri dan ke lima anakku, apalagi jaman sekarang, le..le cari yang haram aja susah tau !!!"
Pemuda: Waktu jaman dulu, kan Bapak memang masih muda, jadi enjoy… sekarang bapak harus menanggung semua keluarga di Usia Tua.. .. Jadi tidak ada hubungan dengan Presiden, dong PaK”

CICAK DAN BUAYA


Kalau cecak (selanjutnya ditulis cicak) berkelahi lawan buaya, sudah pastilah cicak kalah. Begitu kira-kira bayangan semua orang. Sebab apalah itu cicak, walaupun bentuknya seperti buaya, tapi bagi buaya ia hanya bagai slilit di sela-sela gigi.

Tapi, tunggu dulu. Memang buaya bisa menang melawan cicak jika buaya berhasil melindas atau menggigit cicak. Kalau tidak, belum tentu. Misalnya cicak malah bertengger di belakang buaya, diam-diam merayap lalu mencocol mata buaya. Buayanya bisa kalang-kabut.

Jadi menang dan kalah antara buaya dan cicak tidak semata-mata perkara besar-besaran tubuh atau kuat-kuatan tenaga. Tidak selamanya yang kecil harus kalah. Tidak selamanya yang lemah langsung keok.

Walaupun tubuhnya besar dan tampak menakutkan, buaya juga punya kelemahan. Ia tidak bisa menerkam musuhnya dari depan, tapi dari samping kepalanya atau ekornya. Makanya buaya harus selalu bersiasat kalau mau melibas buruan dengan serangan dari samping.

Alkisah, di sebuah negeri yang banyak tikusnya, cicak dan buaya terlibat perseteruan. Buaya menuduh cicak tidak tahu diri, melampaui kewenangannya sebagai cicak. Apalagi ulah cicak itu sudah mengusik kenyamanan buaya. Tak pelak, cicak lalu diuber-uber dan akhirnya ditangkap buaya.

Memang cicak tidak langsung ditelan buaya, tapi masih disimpan dalam mulut. Seperti kalau buaya menyimpan anaknya sendiri di mulutnya ketika akan dibawa ke air.

Akhirnya negeri yang banyak tikusnya itu jadi gaduh. Banyak sekali yang bersimpati pada cicak. Nyamuk, burung, kambing, kerbau, kecoa dan banyak lagi lainnya yang mendukung cicak. Semuanya saling dukung-mendukung minta agar cicak dilepaskan, jangan sampai dimatikan oleh buaya. Negeri yang banyak tikusnya itu akhirnya tiap hari gaduh dengan berita buaya menangkap cicak.

Desakan pendukung cicak semakin keras. Jumlahnya juga terus bertambah. Satu tim disiapkan untuk menyelidikii duduk soal sebenarnya. Ketuanya burung kakaktua berjambul putih. Burung ini sangat terkenal kepandaiannya berkicau. Makanya dia cocok jadi ketua tim.

Tim baru mulai bekerja keadaan sudah berubah drastis seketika, tatkala di pengadilan mahkamah margasatwa diperdengarkan rekaman hasil sadapan pembicaraan. Rupanya yang menjadi biang semua kisruh itu tidak lain adalah tikus.

Sebenarnya tikuslah yang tidak suka sama cicak karena dia menganggap cicak berbahaya baginya. Dia lalu bikin konspirasi yang membuat cicak ditangkap buaya. Tikus ternyata bukan hanya binatang penggerogot, tapi juga binatang licik yang lihai main "politik".

Untunglah niat jahat tikus kini ketahuan. Rekaman ulah busuknya sudah tersebar di seluruh khalayak. Tikus dan konco-konconya seharusnya ditangkap dan akan menerima hukuman berat akibat ulahnya sendiri. Tapi, di negeri yang banyak tikus, semua belum tentu juga. Bisa saja tikus tidak ditangkap, atau kalau ditangkap nanti dibiarkan lari.

Itulah sebuah kisah menggelikan tapi juga di negeri yang banyak tikusnya. Untung saja itu hanya terjadi di alam hewan, bukan negeri manusia he.. he..he.. (dari FUAD RUMY)

Bebas pengangguran


Perdana Menteri Jepang, Abe, berkunjung ke Indonesia. Di pelabuhan udara, Presiden BY menyambutnya gembira, kemudian duduk bersama di dalam mobil kehormatan. Selama di perjalanan, dengan bangga BY menunjuk kepada ribuan orang yang berdiri di pinggir jalan, yang telah dipersiapkan sebelumnya, sambil mengibar-ngibarkan bendera Jepang dan Indonesia. Tapi Shintaro Abe mengerutkan keningnya.
"Banyak sekali pengangguran di negara Anda," kata Abe, "Di negara kami tak seorang pun mau membuang-buang waktunya seperti itu. Mereka bekerja, dan tak punya waktu berdiri di pinggir jalan."
Mendongkol hati BY mendengarkannya. Begitu Abe pulang,ia menyusun rencana untuk berkunjung ke Jepang, ingin membuktikan apakah benar tak ada pengangguran di Jepang. Beberapa hari kemudian, BY dan rombongan tiba di Jepang. Shintaro Abe menyambutnya di pelabuhan udara dan bersama-sama menuju istana negara. Di sepanjang jalan, tak seorangpun yang berdiri di pinggir jalan menyambut mereka.
"Anda lihat," celetuk Abe, "Tak ada yang menganggur." Keesokan harinya,
BY bersama ajudannya mengelilingi kota Tokyo. Tak seorang pun penganggur yang mereka temui. Setelah beberapa hari mencari dengan sia-sia, akhirnya mereka bermaksud pulang kembali ke Indonesia. Dengan ditemani Abe mereka menuju pelabuhan udara. Tiba-tiba,tampak seorang lelaki duduk termenung di pinggir jalan.
"Itu dia!" teriak BY, "Kita berhasil menemukannya seorang!" Dia menyuruh ajudannya menghampiri orang tersebut. Tak lama kemudian ajudannya kembali sambil berlari-lari. "Bukan, bukan, pak BY!" teriaknya, "Dia duta besar kita, dubes Indonesia untuk Jepang!"