Bismillahirrahmanirrahim...
tuhan, engkau maha tahu segala makna
dan maha paham redupnya cahaya mataku
tak perlu aku ceritakan sejuta gundah gulana yang menggelayut di pancaran batinku
tuhan, engkau maha dengar segala keluhan dalam gerak dan bahasa sembahyangku
tak perlu aku berontak menuntut semuanya engkau kabulkan jua di atas kefanaan
hanya satu yang ingin kupelihara dalam pemberianmu
yakni setiap aku menyebut namamu
ada pancaran kasih sayangmu padaku
bismillahirrahmanirrahim...
۞۞۞
Doa Musyafir Ilmu
demi masa,
yang tak letih mengedari lingkaran waktu
tak berhenti sampai aku tersungkur sampai aku terus mencari
dan tak sedikit pun yang paham rahasia apa yang tersembunyi
dengan teori saja, tak pernah cukup untuk memahami-Mu
lantas, diusung kemana semua pertanyaan itu?
(goresanku hanyalah sebutir doa disela-sela kebodohan hamba yang menganga)
demi masa,
anugerah terus melimpah tanpa pamrih
namun belum ada yang sanggup menakar jumlahnya dengan hanya ilmu matematika
tak tahu, di universitas mana rahasia-Mu bersembunyi
semakin kutemui ia, malah semakin kukehilangan
dengan teknologi saja, tak kan pernah sampai kepada jejak-Mu pun!
( kugerakkan mata penaku menuju-Mu Tuhanku, seraya beringsut di terowongan gelap kebutaan hatiku )
Tuhanku,
mengenalmu saja aku belum sanggup
mengenal diriku pun masih samar-samar
Jadi, apa makna ilmu pengetahuan ini?
tapi aku tak berhenti, Tuhanku
sampai semua lautan menjelma tinta dan segenap tanah menjadi kertas
aku tetap berguru pada-Mu
Tamalanrea, 10-03-1997
۞۞۞
Doa musyafir ilmu (2)
Pada siapa kugerakkan mata pena ini
Segala tulisan telah tumpah disini
Bahkan air laut pun gelisah pada ombak
Tak ada teori bisa dipedomani sebagai ujung tombak
Hendak kemana haluan ilmu ini bergerak
Suara cendekia dan kaum pintar terdengar serak
Sekolah dan kampus seperti penjara yang sesak
Mendidik murid-murid untuk diam dan tak tahu berteriak
Dimana lagi para musyafir ilmu akan berteduh
Universitas cakrawala tak memuat peluh dan keluh
Masih banyak pertanyaan yang tak terseduh
Sebab mata tuhan tak dijadikan suluh
Hipotesa dan rumusan hendak menjangkau hukum tuhan
Teknologi dipercaya sebagai tuhan-tuhan baru
Agama dan kepercayaan langit dianggap beban
Meski malapetaka terus-menerus menderu
۞۞۞
Doa musyafir ilmu (3)
Tuhan, kembara musyafirku menuju-Mu dengan peluh meniti di atas shirathal pengetahuan
namun sungguh kuamat terbatas
tak ada logika, asumsi dan teori pengetahuan mengenali-Mu
Tuhan,
bangkitkan aku dari kebutaan ilmuku
hidupkan aku kembali dari kematian segenap jiwa kemanusiaan
sebab status sosial dan gelar sarjana tak kuasa menolongku
perdebatan kebenaran berhenti pada kesimpulan yang nisbi
Tuhan,
kami tak punya kurikulum untuk belajar tahu diri
di ruang kelas pun kami saling menyakiti
banyak klaim dan dominasi kebenaran dipertaruhkan
seperti tak terjaga hak atas penciptaan-Mu
Tuhan,
anugerahkan pendidikan ini dengan mujizat
sekolah dan kampus lebih banyak menindas pikiran
suara burung dan desah angin saja tak bisa kuajak bicara
bahkan jarak semakin tak terjangkau
Tuhan,
guru kami seperti pesulap yang mengajarkan ilmu sihir
dengan sekali ayunan tongkat saja hendak merubah laut jadi daratan
tak peduli hukum-hukum alam berontak
Tuhan,
kami terus salah sangka terhadap badai kehidupan
kesenjangan dan perbedaan ada dimana-mana
jiwa yang kelaparan terus disuapi ambisi hingga semakin miskin dan sia-sia
Tuhan,
bantu kami hentikan segala bentuk seminar kematian hati manusia
۞۞۞
Allah-ku Rinduku
bila sukma ini dendam rindu tak terkira
kucari selimut pada kitab-kitab suci tanpa jera
kudekap asma-Mu dalam kebesaran qur’an dari hira
seolah tak ada jarak lagi mendera
bila terik durjana menerpa
kuteduhkan wajah di rumah-rumah ibadah yang menyapa
kutundukkan penyembahan senikmat denting harpa
kuraih karunia-Mu meski sedepa
selain diri-Mu tiada lagi rinduku yang serupa
bila sunyi asingkan malam pada sembah dan sujud
kudapatkan suara yang sejati dalam tahajjud
bercumbu dengan-Mu dalam seruling cinta yang meniup
kegembiraan menari selincah tepuk rebana berdegup
yah Allah-ku rinduku,
engkau selalu ada dalam ketidak beradaanku
yah Allah-ku rinduku,
engkau maha tahu semua pengetahuan dan semua ketidaktahuan hamba
engkau pemilik segala keagungan
dan hamba menjadi sangatlah kerdil
yah Allah-ku rinduku,
engkau membuat jiwaku kaya di atas kemiskinan raga sehingga syukurku menggunung besarnya
۞۞۞
Terlanjur Terbit
Hari ini
Matahari masih terbit
Masih ada penantian tersisa
Aku tak akan berhenti untuk-Mu
Karena matahari terlanjur terbit hari ini
Sampai esok
Kurawat cintaku yang utuh pada-Mu
Meskipun sirna hidupku ini
Kutanam rinduku di dalam daging
Tuhanku, kembalilah padaku
1998
۞۞۞
Abu Dzar, bertutur
Seorang Abu Dzar al Ghifari r.a menghitung kitab dalam jumlah
100 shahifah dan 4 kitab suci
50 shahifah diturunkan kepada Syits as.
30 shahifah diturunkan kepada Idris as.
10 shahifah diturunkan kepada Ibrahim as.
10 mushaf diturunkan kepada Musa As
4 kitab suci yakni Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an
Shahifah yang diturunkan kepada Musa as. adalah pelajaran:
Kepada orang yang meyakini datangnya kematian tetapi justru senang menghadapinya
Kepada orang yang memperhatikan gejolak dunia tetapi tetap tenang
Kepada orang yang meyakini takdir tetapi masih berduka
Kepada orang yang meyakini hisab tetapi tidak beramal shaleh
Mushaf-mushaf kepada Ibrahim as. berisi tamsil:
“wahai raja yang kuat dan angkuh. Aku melantikmu tidak untuk mengumpulkan harta, tetapi untuk mencegah sampainya doa seorang yang dizhalimi”
Begitulah Allah yang sensitif dengan doa seorang hamba yang sangat membutuhkan-Nya.
Namun terkadang seorang pemimpin menjadi sewenang-wenang, telinganya tuli mendengar suara rakyat, jabatan dijadikan alat untuk korupsi.
Abu Dzar menuturkan lagi waziat dari Rasul:
“Takwa adalah dasar dan akar segala urusan
Rumusnya adalah perbanyak baca Al-Qur’an dan ingatlah kepada Allah
Jangan banyak tertawa dengan terbahak-bahak karena akan mematikan hati
Jihadlah karena rahbaniah umatku karena para bidadari menuggumu di surga
Bergaullah, bertemanlah dan duduklah bersama dengan orang-orang muskary
Pandanglah orang yang ada di bawahmu supaya engkau tahu bersyukur dan jangan selalu memandang ke atasmu sehingga engkau remehkan nikmat Allah
Janganlah menyebut ghibah dan fitnah kepada sesama karena itu sama saja memakan bangkai sesama”
Abu Dzar mengelus dada seusai rasul menepuknya lembut :
“Tidak ada kebijaksanaan yang lebih baik daripada pengaturan musyawarah, tidak ada ketaqwaan yang lebih baik daripada menjauhi larangan, dan tidak ada kemuliaan yang lebih baik daripada sopan santun”
۞۞۞
Ilmu Warisan Rasulullah saw
Warisan yang ditinggalkan rasulullah saw hanyalah ilmu
Beliau malah tak mau pulang ke rumah sebelum semua harta sedekah terbagi
Tak ada dinar maupun dirham tersisa dalam kasutnya sampai beliau tertidur di makamnya
Hanya Islam dan Al-Qur’an yang dititipkan kepada umat alam
Dan ilmu menjadi warisan yang abadi
Siapa pun yang mewarisinya maka ia telah mendapatkan kekayaan yang tak ternilai
۞۞۞
Ladang Ilmu
(Nasehat Ali bin Abu Thalib ra.)
Bagi musyafir ilmu tersedia ladang ilmu untukmu
Serta Allah akan melapangkan semua jalanmu
Orang yang mengejar pendidikan hidupnya nampak fakir tapi jiwanya kaya, orang yang mengejar harta maka jiwa raganya miskin
Orang berilmu selalu merendah sebab tahu akan kebodohannya, tapi orang yang kurang berilmu terkadang menyombong karena tidak paham batas pengetahuannya
Orang pintar tahu orang bodoh karena ia pernah bodoh tapi orang bodoh tidak tahu orang pintar karena ia tidak pernah pintar
۞۞۞
Mutiara Ilmu
Pada sebuah mesjid di Damsyik berteduh seorang musyafir ilmu
Dialah Abu Darda Ra. yang tak merasakan lelahnya perjalanan
Sebab Allah telah memudahkan jalan bagi orang yang berjalan jauh untuk menuntut ilmu pengetahuan
Para malaikat akan menghamparkan sayap-sayapnya
Sketsa Doa
kupanjatkan doaku setiap waktu
tak peduli engkau ada atau tiada
kuyakin doa terus terpintal menggapaimu
baik disaat aku ingat dan lupa
atau pada saat aku tak mengerti arti doaku sendiri
kususun doa dengan bahasa sederhana
dengan kalimat yang tertulis di batin
dengan sketsa yang rabun
۞۞۞
Surga Yang Sekarat
Dimana mesti kusimpan beban yang berat
Warna harapan terkapar dan berkarat
Mungkin arahku terbawa angin ke barat
Sementara dosa-dosa kian sarat
Kucari Tuhanku dalam rintihan melarat
Surgaku rasanya kian sekarat
1998
۞۞۞
Mungkin Ada Dosa Lupa Kucatat
Atau
Mungkin Tuhan Teramat Sayang
Mungkin ada dosa masa lalu yang lupa kucatat
Atau ada kehilafan yang belum sempat kusesali sehingga pada hari-hari ini banyak hukuman menvonis diriku
Mungkin pertobatanku belum sampai ke tujuan padahal telah kuelus biji tasbih dengan khusuk
Juga sujud sembahyangku sepanjang sejadah tak mampu keringkan dosa-dosaku
Mungkin harus kucari jalan pengampunan
Dengan hanya sekali usapan embun membersihkannya
Merontokkan sekujur dosa di tubuhku
Mungkin aku tak boleh letih untuk berjuang
Meski kegagalan akrab menggayuti harapan
Sehingga bisa kutebus segala cobaan dan nikmat dosa yang pernah melenakanku
Mungkin Tuhan teramat sayang kepadaku
Sehingga cinta-Nya menyederhanakan hidup
۞۞۞
.....-Mu
langkahku tegar menuju-Mu
tak ada jalan lain bisa membelokkanku
kugilas semua keraguan yang mengepungku
aku tak pernah berubah
aku pasti ke kiblat-Mu
kalaupun semua mengolok-olok
aku tetap mengirimkan doaku
tak peduli dongeng-dongeng manusia merayuku
meskipun safaat-Mu tak menopangku
tetap kupanjatkan tanganku
sampai kugapai menara-Mu
bila telah sampai di atas tahtah-Mu
kutaburkan semua olokan dongengnya
agar mereka bisa mendengar kuasa-Mu
aku tak berhenti
aku tetap menuju-Mu
mencapai-Mu
16-07-1998
۞۞۞
Menghadap Kelahiran
Berkejaranlah anak-anak jarum jam
Aku ingin segera tiba berlabuh pada usia
Bergegas merebut kedewasaan zaman
Seraya menimang masa kanak yang meninabobokan pelangi di cakrawala tanpa beban
(mengenang kembali sepuluh Juni di tahun lampau)
Bergegaslah datang detak waktu
Agar aku sempat menghitung kumpulan umur yang menyimpan kepalsuan dan beban nurani saat jiwa letih berlari
di ruang hampa, Tuhan datang mengelusku
(merunut untaian dosa dan penghianatan)
Bergegaslah pulang hari kelahiran
Sucikan kembali perut bumi ibuku
Biarkan aku belajar dari pantulan cermin matamu, untuk lebih mengenalmu di diriku sendiri
Seperti memilah tasbih, kupilah-pilah jalan pulang menghadap kelahiran sampai menemui-Mu yang perkasa di tahta Ar’sy
(mengepulkan dzikir padamu di atas batas)
11-06-1998
۞۞۞
Tiba-tiba Saja
Tiba-tiba saja ada yang jatuh dari langit
Entah apa namanya yang bisa disebut
Warnanya tak berwarna
Kuterjemahkan saja sebagai mata tuhan yang melotot
Tiba-tiba saja aku terdiam dengan sengit
Seraya membaca warna angin yang gesit
Ia, mengirimkan petaka ke permukaan hati yang terus saja genit
Dimana-mana terdengar duka menjerit
Tiba-tiba saja kita mengerti
Ternyata itu adalah air mata tuhan
Maka, betapa banyak dosa-dosa kita
۞۞۞
Sang Guru
(Kepada As’ad bin Zurarah r.a)
Sang guru pembawa cahaya ilmu
As’ad yang mengajarkan Mus’ab banyak ilmu
Dialah muqri yang sesungguhnya
Semua ilmu tak henti diamalkannya
Lembaran hidup sang guru menjadi kitab yang abadi
۞۞۞
Diam
Di lembah sunyi tak ada gerak cahaya
bulan padam sendiri
Ketakutan angin mengepulkan sayapnya adalah juga ketakutan cahaya pada malam
Aku termabuk kelam dalam diam dan terasa semua diam
Bumi juga diam, sampai waktu berhenti dan lihatlah betapa tenangnya mati
Aku merasa hilang dalam diam,
hanya kelebat cahaya tersisa
Menyusur jejak wudhu pada seberkas kesucian
Disana, kutemukan beningnya wajah-Mu terpancar di cermin jiwa dalam ma’iyyat
Kesadaran sempurna adalah ketika jiwa terpisah dengan jasad menjadi rahbania
Terkadang aku malu-malu saat kuterselip diantara malaikat-Mu yang terdiam
Karena Engkau terus mengintipku sejak kau ada
Tetapi Engkau diam, hanya diam
Terkadang pula aku congkak pada keadaanku
Aku berteriak sekerasnya,
Suaraku amatlah lemah menembusi dinding alam
Sampai aku pilih lagi diam
Biarlah aku terus diam menemani Engkau yang terdiam sendiri
Biarpun sepi tidak membuat-Mu butuh padaku yang secengeng ini
Sebab aku hanya boneka-Mu yang bisa kau buat diam, maka izinkan aku diam seperti Engkau
Mungkin hanya dengan diam inilah aku bisa mengerti Engkau mudrika
Tamalanrea, 1992
۞۞۞
ma’iyyat= bersama Allah
mudrika= tawajjuh kepada Allah
nol
aku adalah angka nol-nol besar
bukan apa-apa
semua tiada tetapi ada
aku hanyalah nol
seperti debu yang segera tiada,
menjadi nol
۞۞۞
Tiga Tanda Tanya (???)
Biarlah aku mengembara di ruang bathin
Menjelma jadi Kamu, bertukar-tukar wajah
Kamu menjadi aku, menyatu di bayangan
Saat kamu meng-aku, sunyi suara di nafas pasrah
Kita saling meminjam nama sekadar isyarat tanda
Sebab hati hanyalah cermin dan kata-kata yang meretakkannya
Kesangsianku mendalam bahwa kau meng-ia
Keraguan adalah ketika kita tak sempat memilih
Keraguan adalah ketika hati terbelah tanpa luka
Matahari cairkan embun di bianglala perih
Takut bertanya, di musim mana akan berada
Mengapa ada tiga tanda tanya berenang ke seberang wilayah
Sedangkan samudera yang menggenang tak lagi membiru
Tak mungkin manusia bisa merawat dusta yang serakah
Sebab harga diri tak terbilang dengan nurani hamba yang tertipu
11-09-1995
۞۞۞
Tuhanku
Tuhan,
Setiap saat tanganku menengadah
padamulah berpusar semua doa
mengingatMu, meneteskan butir-butir kecil dari penjuru mataku
Tuhanku,
Setiap saat jantungku berdebar memujamu
Terasa banyak doaku menggenang di kalbu
Sungguh aku tiada artinya
Bila pengampunanMu telah tertutup
Tuhanku,
Setiap lidahku menyebut namaMu dalam tasbih yang khusuk
Terasa engkau kian dekat
Betapa meruginya bila tak menyapaMu meski hanya di lima waktu
Tuhanku,
Di desah nafasku Kau simpan rahasia kehidupanku
Mengalir jejak darah mengikutiMu setelah melewati perantara lima waktu
Keyakinanku semakin meneguh padaMu.
Bahwa hanya engkau paling esa tempatku berkeluh
1998
۞۞۞
Garis
garis matahari jatuh tepat di atas ubun-ubunku
sebentar lagi akan merebahkan bayang di atas bumi
sementara aku masih terpaku pada sebuah garis yang mematuk kakiku
sampai sinarnya meninggalkanku dengan mengusung garisnya
dan aku terus berdiri setelah terjatuh terus mengikuti garis hidup yang panjang
kubuat lagi banyak garis-garis
garis hitam-putih, garis yang berliku di atas garis-Mu yang rahasia
sampai garis malam menoreh sunyi
sampai rembulan muncul menggaris langit
kurasakan garis batinku kian menipis
sebuah garis mati yang tak kuasa kubelokkan
sebuah batas garis yang setia menanti
garis yang menuju-Mu Tuhanku
garis yang pasti
titik simpul semua garis-garis ini
Lejja, 09-05-1997
۞۞۞
Kita Masih Disini
kita masih disini
mengasah ketajaman pisau analisa
membedah logika yang mengeras
membelahnya jadi puing-puing
kenjadi irisan kecil di atas jawaban keraguan
kita masih disini
melingkari setumpuk teori
melahapnya dengan rakus
menyabung metode-metode ilmiah
bertengkar retorika di meja diskusi
pada sisa makalah yang merangkum masalah
kita masih disini
mengejar dan dikejar-kejar
entah di titik mana akan bertemu
menyergapmu, menyergapku
entah apa dan siapa yang dikejar
sedangkan kita masih disini
entah sampai kapan?
1997
۞۞۞
Pintu Siapa
siapa yang berdiri merahasia di depan pintu
ada jejak kaki tersisa meragu
siapakah yang datang melintas
tanyakan pada daun pintu yang bisu
ada suara ketukan menempel di telinga
tak ada paras nampak di sana
”o yah, memangnya menunggu siapa?”
tak ada malaikat yang sudi menjeguk
sementara kematian membuntuti jejak
siapakah yang paham kapan nyawa dicabut
kepalsuan terus mengantar sampai ke pintu
sampai tak tersisa ruang untuk sembunyi
menyusun kebenaran hingga tuntas
”akh, siapakah yang ikhlas membuka pintu?”
(malaikat Malik atau malaikat Ridwan)
1997
۞۞۞
Al- Qur’an
Nasehat rasul ada dua:
Jika berbicara ucapanmu al Qur’an, jika engkau diam ingatlah maut
al Qur’an dipahami kandungannya sebagai firman bukan hanya sebagai kumpulan huruf, fathah dan dhamah
pergunakanlah sepanjang waktu untuk memahami makna yang sempurna
sepanjang malam gunakan untuk tafakkur dan tadabbur
sepanjang siang gunakan untuk mengamalkan al Qur’an
sebab kalamullah akan menjauhkan semua dari binasa
wasiat rasul ada dua :
di bumi al Qur’an adalah nur bagimu yang memancarkan cahaya sepanjang hidup
di langit al Qur’an menyimpan segenap perbekalan menuju perjalanan panjang
bacaan al Qur’an terpancar seperti cahaya gemintang oleh penduduk langit sebagaimana cahaya gemintang terlihat oleh penduduk bumi
anjuran rasul :
kembalilah kepada Allah dengan apa yang keluar dari-Nya agar menjadi tawajjuh
al Qur’an menghapuskan jarak dengan Allah, jika membacanya maka terasa ada nafas surga berhembus
al Qur’an sesungguhnya kalamullah yang maha benar dan tidak akan ada keraguan di dalamnya.
2008
۞۞۞
Sakinah
Udara yang berwajah manusia adalah sakinah
Dialah mangkuk emas dari surga yang mencuci hati para nabi
Dan rahmatullah yang diistimewakan untukmu
Sakinah yang menawarkan ketenangan jiwa
Sakinah yang merumuskan kedamaian dalam hidup
Sakinah yang wibawa dan bersahaja
Sakinah yang menjadi nama malaikat
Sakinah yang menjadi taman berbunga hijau di surga
Dan malaikat berbaris mengelilingi seperti kumpulan awan
2008
۞۞۞
Rumah Sakinah
Bila al Qur’an melantun dalam rumah muslim maka dari rumah-rumah itu nampak sinar gemintang dari langit seperti menyaksikan gemintang dari bumi
Tapi bila di hatimu tak dihuni al Qur’an maka di dalam dadamu seperti rumah-rumah kosong
Disaat para muslim saling mengajarkan al Qur’an maka rumahmu akan menjadi sakinah dan rahmat terus-menerus tercurah bagai air hujan dan malaikat mengerumuni
sebab Allah menyebut-nyebut bangga namamu di dalam majelis malaikat-Nya
Tapi bila al Qur’an didiamkan saja di almarimu maka ketenangan di telaga hatimu akan berkarat
Tumbuhkanlah al Qur’an di rumah-rumahmu, di madrasah-madrasah dan di pondok-pondok pesantren agar menjadi rumah sakinah
Kalamullah, itulah al Qur’an
2008
۞۞۞
Generasi Al Qur’an
Nak, engkaulah generasi al Qur’an
Yang menghadirkan matahari di dalam rumah
Dan sanggup menyinari kegelapan dunia akhirat
Menuju jalan terang benderang
Nak, sucikan dirimu dan belajarlah al Qur’an
Sebab jika matamu buta mengenalinya maka pahala akan terhalang
Tak ada yang boleh mecegahmu jadi hafizh bahkan menjadi ustadz
Meskipun di hari tuamu, engkau hanya menjadi penjaga mesjid
Nak, sebagai penuntun junjunglah al Qur’an
Agar dosa yang lalu dan yang akan datang segera meluntur
Sebab pada hari kebangkitan Allah telah menjajikan cahaya purnama di wajahmu
Nak, kerahkan jiwa ragamu membaca al Qur’an
Biarkan wanginya semerbak ke segenap alam
Saat engkau mulai membaca satu ayat maka terasa Ayah meninggi satu derajat
Tak ada yang sanggup mengukur tingginya tempatmu jika bacaan al Qur’anmu sampai khatam
Nak, di pintu surga malaikat memasangkan mahkota cahaya kepadamu
Pancaran cahayanya menghiasi seisi surga
Sementara Ayah dan Ibumu didandani bagai sepasang pengantin bidadari dengan kemilau busana yang maha indah
Lantas, Allah menjelaskan :
“inilah pahala bacaan al Qur’an, anakmu”
Makassar, 11-05-2008
۞۞۞
Mengingat Allah
Siapakah yang mengingat Allah di waktu susah maupun senang
Siapakah yang meninggalkan hidupnya dengan perasaan takut dan penuh harapan
Siapakah yang perdagangannya tidak menghalanginya mengingat Allah
Mereka akan masuk surga tanpa hisab
۞۞۞
Sebagai Istri
(doa Ummu Kultsum)
Wahai suami yang menikahi jiwa ragaku demi cinta
engkaulah yang dikirimkan Allah sebagai pelindungku.
Wahai suami nikahilah batinku demi Allah engkaulah lelaki penjaga tegaknya agamaku
Berjihadlah dalam rumah tangga kita demi keluarga dan anak-anak di kehidupan fana
Berjihadlah dalam agama demi Allah dan rasulullah untuk kehidupan yang baqa
Wahai suami yang menjamahku dengan ibadah Meski engkau lahir dari rahim kaumku, namun setelah Allah, pada suamiku tempatku merendah
Wahai suamiku, akulah milikmu dan keluarga ini milik Allah
Maka suka duka menjadi rahasia kita seperti Hudzaifah r.a. yang menjaga rahasia rasul saw
Wahai suamiku, aku bersedia jadi apa pun untukmu karena kewajibanku adalah menyempurnakan hasrat dan kesucian hati suamiku
2008
۞۞۞
Harta Dunia
Di dalam harta dunia terdapat tiga pemilik
Dan pemilik harta yang pertama adalah takdir
Dia bisa saja mengambil hartamu kapan saja ia mau
tak perduli apakah kamu sedang sakit atau sedang sehat
tak perduli apakah kamu sedang susah atau senang
tak peduli apakah harta itu akan diambilnya semua atau bersisa
Dan takdir akan tiba kapan saja, tanpa seorang pun di antara kita yang tahu waktunya
Dan pemilik harta yang kedua adalah pewaris
Dan bisa mengambilnya karena hak kewarisannya
Tak perduli apakah ia suami atau istrimu
Tak perduli apakah ia anak-anakmu atau ahli warismu
Dan pewaris selalu menanti harta dunia disaat engkau hidup dan mati
Dan pemilik harta dunia yang ketiga adalah dirimu
Kamu bisa saja menyimpan atau menghabiskan hartamu di dunia kapan saja
Kamu bisa saja menjaga hartamu di dunia tapi tak bisa membawanya ke akhirat
Disana pertanyaan sederhana menunggumu :
Darimanakah harta itu kau peroleh dan kemana engkau membelanjakannya?
Dan Didalam tumpukan hartamu ada hak fakir miskin dan anak yatim
Dan yang pasti adalah kamu akan diletakkan sendiri di dalam kubur tanpa harta-harta dunia
Sabbang, 03-05-2008
۞۞۞
Qari
Hari ini banyak qari dan hafizh muncul di musabaqah
Mereka berebut hadiah namun lupa alam baqa
Tak ada lagi qari sebaik dan seikhlas Ubay bin Ka’ab
Dia yang membetulkan bacaan shalat Rasulullah pada saat lupa di waktu sedang imam
11-05-2008
۞۞۞
Bendera Islam
Lelaki berhati baja itu tetap berdiri tegak di depan peperangan
meski mata pedang membidik jantungnya namun jemarinya tetap kukuh mencengkram bendera Islam
Lelaki tangguh itu adalah Mus’ab bin Umair
Keberaniannya membuat musuh tercengang
Dialah yang berdiri tegar di hadapan musuh yang mengerang
Ditinggalkannya gelimang harta dan kekayaan di tengah keluarganya
Lelaki itu menikmati zuhud dan kesederhanaan
Dan bendera Islam tetap berkibar dalam gelorah cinta dan kemenangan
Pada saat Uhud membara oleh serangan kaum kafir
Sabetan pedang memotong kedua tangannya
Mus’ab tetap menahan bendera dalam dekapan
Mus’ab terus berdoa, bendera muhajirin terus berkibar sampai akhir zaman
05-05-2008
۞۞۞
Melebur di Tuhan
dalam keluasan semesta-Mu
dan dalam pengindraan manusia
adalah tumpang-tindihnya teori kosmologi yang ditakar oleh dunia pendidikan sekuler
dalam keteraturan penciptaan-Mu
bumi dihitung dalam segala dugaan
sunnatullah sibuk ditaksir dengan gravitasi yang hampir menipu
bahwa semua dalam pengendalian-Mu
dalam menjalin silaturahhim pun dirumuskan dengan besarnya laba ataukah berdasarkan kepentingan
senjata pemusnah mereka buat demi keangkuhan dan untuk saling binasa
hendak membingkai ruang dan waktu disusunlah miniatur matahari
dengan asumsi kacepatan cahaya saja disangkanya telah mengungkap rahasia penciptaan-Mu.
tapi,
Tuhan telah meleburkan cinta pada manusia sehingga tetap sabar meski ciptaan-nya itu telah mencipta tuhan-tuhan imitasi yang merenggut keyakinannya
Dengan sabar dan cinta Tuhan berkata:
”semesta hanyalah deru nafasku, sedangkan manusia adalah sehembus angin yang kutiupkan dari pusaran cintaku”
Tuhan telah meleburkan sayang pada manusia sehingga tetap sabar meski manusia telah merusak bumi ciptaan-Nya yang sempurna
Dengan sabar dan sayang Tuhan berkata:
”bumi hanyalah sebutir debu di jari telunjukku, sedangkan manusia adalah sebongkah tanah menjadikan sebaik-baiknya mahluk di elusan sayangku”
Tuhan telah meleburkan kasih pada manusia sehingga tetap sabar meski rahasia ciptaanya telah dipatenkan oleh para ilmuan
Dengan sabar dan kasih Tuhan berkata:
”ruang dan waktu, awal dan akhir, adalah rahasiaku, sedangkan manusia adalah kekasihku yang kuberi cahaya ilmu untuk mengungkapkannya”
Soppeng, 01-10-2000
۞۞۞
Shalat dan Kesabaran
Dengan shalat dan kesabaran aku menghadap pada-Mu
Dengan segenap kesempurnaan hati aku mengambil wudhu
Ampunilah dosa yang melekat di langkahku
Ampunilah dosa yang terpegang oleh tanganku
Ampunilah dosa yang didengar oleh telingaku
Ampunilah dosa yang dilihat oleh kedua mataku
Ampunilah dosa yang berbisik di dalam hatiku
Berikan aku kaffarah seperti dedaunan yang berguguran
Bersihkan dosaku seperti dimandikan di sungai yang mengalir
Seperti doa Azwaajun Muthahharah :
Bila aku mati jangan menangisiku, ajaklah muslim berwudhu lantas berjamaah di mesjid, shalat dan beristigfarlah untukku, dengan shalat dan kesabaran engkau membaringkan aku di liang lahat
Aku akan bergegas menemui-Mu sebelum muadzin berakhir
Sebab takbiratul ula akan bebaskan panasnya api dan kemunafikan
Dan dudukkan aku di atas mimbar cahaya pada saat manusia dilanda ketakutan
Jadikan aku tetangga-Mu yah Allah karena telah memakmurkan mesjid-Mu
Kenanglah namaku di langit yang sanggup menyinari bumi karena telah bermuhasabah dengan dzikir
Aku perbanyak diam tapi dengan dzikrullah dan berbicara juga dengan dzikrullah
Dengan shalat dan kesabaran kutelusur jejak nabi dalam mengatasi kesulitan sampai para malaikat menemuiku dari semua pintu surga
2008
۞۞۞
Kaffarah = penghapus dosa
takbiratul ula = takbir imam yang pertama
Allah Lebih Mencintaimu
Dzikir ini terus mengingat-Mu, mengenali-Mu, mencari-Mu, mencintai-Mu
Dzikir ini mendekati-Mu, memeluk-Mu, bersama-Mu
Dzikir ini membersihkan hati seindah surga
Saat Dzikir ini berjalan merangsek
Allah bergegas menemuimu
Saat Dzikir ini diam di dalam hati,
Allah menemanimu di dalam sunyi
Saat Dzikir ini bergumam di majelis
Allah mengumpulkan malaikat yang ma’shum dan membbanggakan hamba yang berdzikir
Saat dzikir ini terus menuju Allah, kemuliaanmu pun terus meninggi menukik
Dzikrullah bersembunyi antara roja dan khauf di sisi Allah yang lebih mencintamu
Dalam lapar dan kesulitan pun Allah menjagamu sepanjang dzikir
Tetaplah basahi lidahmu dengan dzikir sampai tiba pada musyahadah
Sebab tak ada tempat meminta selain kepada Allah
Teruslah engkau berdzikir dengan hati, berdzikir dengan lisan, berdzikir sendiri-sendiri atau berdzikir di majelis
Sebab dzikrullah adalah tujuan yang pasti, sedangkan sedekah dan jihad hanyalah alat
Dzikrullah lebih tajam dari mata pedang para fisabilillah yang membebaskan kemunafikan
Dzikrullah adalah hidup
Hidup yang hakiki adalah cinta
Dan cinta yang pasti adalah dzikir
Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar
Dzikrullah melembutkan cintamu kepada Allah, namun Allah justru lebih mencintaimu
2008
۞۞۞
Roja = harapan
Khauf = ketakutan
Munajat Kasih
di pelepah hati yang bisu
tersangkut kalimat munajatku
hamba tak pernah sempurna mencintai-Mu
masih banyak debu menggelayut di sujud sembahyangku
namun keyakinanku tak pernah surut
bahwa penyerahan munajatku tetap akan sampai pada-Mu
asmaul husnah akan mencukupkan cintaku dan menyeka debu dosa di kefanaan kasihku
di ranting kering yang lapuk
tersungkur aku jatuh merontah
hamba terapung di padang tadabbur
masih ada waktu mustajab untuk mengirimkan munajatku
dan munajat terus meninggi di lantai shuffah
menukik cahaya langit
di belantara kehidupan yang kian merimbun
semakin dahsyat beban menimbun
hamba yakin Allah tak menganiaya
saat kudiam bertafakkur terasa hamba dan rab tidak ada hijab
kurasakan tangan-Mu meraih munajatku
dan air mata mengalirkan butir-butir kasih seperti kasihku yang tak mau berakhir
wahai rabku,
malam tidak akan terasa indah kecuali dengan bermunajat dzikir kepada-Mu
siang terasa sejuk dengan berada di jalan-Mu
akhirat menjadi lebih indah dengan safaat-Mu
dan di wajahku terpancar cahaya surga
۞۞۞
Jagalah Keikhlasan
Jagalah keikhlasan amalmu, agar hidayah menyinarimu
Jagalah keikhlasan pahalamu, agar fitnah menjauhimu
Jagalah keikhlasan doamu, agar berkah Allah menolongmu
Jagalah keikhlasan shalatmu, agar terhindar dari Gaiyyah yang paling sesat
Jagalah keikhlasan dalam pemberianmu, agar khazah dan rahmat meliputimu
Jagalah keikhlasan dzikirmu, agar Allah menjaga hidupmu dan juga matimu
2008
۞۞۞
Syair Pencari Tuhan
aku tak mau Engkau Tuhan
jika kebebasanku jadi penjara
jika kesetiaan selalu diperalat
jika kejujuran telah dipalsukan
sebab menjadi hamba, atau rasul atau malaikat
aku masih ragu-ragu
menuju kepada-Mu Tuhan
kucari nama-Mu di kitab-kitab
kutunggu firman-Mu di detak waktu
kubangun tempat-Mu di rumah ibadah
ternyata ramai-ramai Tuhan datang, berebut kitab, berebut negara
aku terus terdesak, terinjak
penguasa dan maha kuasa mengabur
dan suaraku tergusur
28-10-1996
۞۞۞
Kebudayaan Islam
Para budayawan, antropolg, sosiolog dan ilmuan kemasyarakatan berdebat tentang kebudayaan
Mereka semuanya diliputi ketakutan dan raibnya sistem budaya masyarakat
Adalah Syaikkh Waliyullah rah. menyibak kitab Hijjatulah al Balighah:
”Agar terhindar dari kebinasaan adat-istiadat yang buruk, maka jadikanlah shalat sebagai kebiasaan yang utama. jika segenap lapisan masyarakat mengamalkan shalat, baik yang pintar maupun yang bodoh, baik penduduk kota maupun penduduk desa, maka ibadah sebagai kebiasaan akan menjadi keperluan hidup. Kebiasaan yang diperdebatkan pun akan akan menjadi baik. Dan yang jahil akan dituntun oleh ulama. Pilihlah pemimpin masyarakat yang imamah dan ahli ibadah tidak untuk mengumpulkan harta, tidak angkuh dan zhalim. Rajin ibadah akan memacu etos kerja. Bahkan ibadah shalat akan menciptakan harmoni dan kerjasama yang baik dalam masyarakat. Senantiasa mengutamakan musyawarah dalam ijtima, dan bermuraqabah kepada Allah semata bukan kepada budaya Asing”.
Sistem kehidupan yang islami adalah jawaban terhadap budaya global, sebab itulah jalan keselamatan. Dan ibadah adalah mesin sosial yang menggerakkan semua sistem itu.
Maha adil Allah yang melimpahkan rahmat-Nya sepanjang zaman.
Jika terdengar suara muadzin maka segeralah menuju mesjid untuk menghidari kebathilan, kekufuran, dan kemunafikan.
Berkumpullah di mesjid-mesjid dengan shaf yang rapi dalam jamaah
Dalam shalat berjamaah ada energi sistem sosial kemayarakatan yang bekerja
Kerjasama, solidaritas, dan persatuan akan menjadi utuh
Dalam jamaah tidak ada kesenjangan antar sesama juga dengan rabb
sebab jika engkau shalat sendiri-sendiri saja ibarat domba yang terlepas dari kumpulannya kemudian dimangsa oleh srigala.
Ibadah shalat jamaah ibarat cahaya Padang Masyar yang menjadi tajalli di hadapanmu
۞۞۞
Ijtima = pertemuan
Muraqabah =
Panggilan Sayang Allah
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Siapa dibalik suara mu’adzdzin yang membelah subuh dari mesjid Nabawi
Dialah hamba sahaya dari seorang kafir Umayah bin Khalaf
Dialah Bilal bin Rabah al Habsy r.a. yang menggetarkan jagat raya dengan panggilan sayang Allah
Ashadu Allah ilahaillallah
Siapakah pemegang tauhid yang kukuh meski dibaringkan di atas panasnya gurun pasir
Dialah pemuja Allah yang teguh meski ditindis bongkahan batu di atas dadanya
Dialah Bilal bin Rabah al Habsy r.a. yang tak pernah henti berkata “ahad! Ahad!”
Asyhadu anna muhammadar rasulullah
Siapakah sahabat rasulullah saw yang di dalam mimpi pun ia dikunjungi
Dialah lelaki yang sekujur tubuhnya dipenuhi luka karena siksaan Abu Jahal
Dialah Bilal bin Rabah al Habsy r.a. yang hidupnya dan matinya hanya untuk agama Islam
Hayya ala shalah
Siapakah pemilik suara yang memantul sejagat
Dialah Bilal bin Rabah al Habsy r.a. yang senantiasa membangunankan tidur kota Madinah
Dialah hamba yang sabar dan ihklas dalam menegakkan Islam
Dialah Bilal bin Rabah al Habsy r.a. yang suaranya menjelma cinta
Karena shalat adalah tiang agama Islam
Hayya alal falah
Siapa yang mengajak kepada kemenangan
Dialah Bilal bin Rabah yang mengundang jamaah di mesjid nabi
Dialah hamba yang meski teraniaya tetap teguh memegang tauhid
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Siapakah yang sudi mengenang mu’adzdzin terbaik dalam Islam Dialah Bilal bin Rabah al Habsy r.a. yang suaranya menjelma cinta
Dialah Bilal bin Rabah al Habsy r.a. yang suaranya membagunkan kota Madinah
Dialah pemilik adzan yang membuat para wanita keluar dari rumah sambil menangis haru
Laa ilaha illallah
2008
۞۞۞
Syair Buat Ibu
Ibu,
Jerih payahmu sering lupa kuhitung
Padahal sungguh kuamat beruntung
Bila ananda sempat dituntun
Dengan segenap sayangmu nan santun
Ibu,
Aku nyaris lupa makna pemberianmu
Ternyata bukan jumlahnya sebagai pengutamaanmu
Tapi penguatan pada kebutuhan yang meraja
Seperti mereguk mata air cinta disaat dahaga saja
Ibu,
Hatimu tulus ikhlas membagikan jatah sayang
Hanya nanda yang sering rakus dan mabuk kepayang
Tak ingin ada bagian yang melayang
Sehingga kami sering ribut berebutan sayang
Ibu,
Kian lelah mengikuti jejakmu yang terus menjauh
Hanya bisa kuikuti tanpa kesanggupan untuk meraih
Lembut kasihmu tegar dan merontah
Nanda hanya bisa terus-menerus menetek dengan pasrah
Ibu,
Kau sisakan sehelai selimutku di samping ayah
Kau jaga kedewasaanku agar tak terjamah
Mendekap hangat nanda di setiap wilayah
Sampai aku sungguh-sungguh paham makna arah
Soppeng, 2001
۞۞۞
Itu saja….
Jangan biarkan aku terperangkap,
padamu
Pada perasaan hati yang kerap kali,
kubunuh
Cukuplah Engkau ada,
Itu saja....
10-06-1998
۞۞۞
Hidup (1)
Pada hidup yang panjang manusia menari
Pada hidup yang serakah manusia bermusuhan
Pada hidup yang pincang terjadi kesenjangan
Hidup yang mengangkan ambisi beraroma mesiu
Dan generasi terabaikan
Pada hidup yang tak mau diam, disana manusia bosan
Pada hidup yang selalu jemu, disana manusia jadi pemalas
Pada hidup yang menggurat matahari, di situ manusia mengemasi rencana
Karena hari esok harus direbut, bukan terus dinanti
۞۞۞
Hidup (2)
Hidup itu kadang melesat pergi
Seperti matahari yang dilepaskan dari busurnya, memanah gedung-gedung, menjilati mahkota langit
Hidup itu kadang meremas sunyi
Seperti rembulan yang berteduh di balik awan, kelelahan mendaki puncak malam, termenung-menung di serambi bumi
۞۞۞
Hidup (3)
hidup berkawan harus saling percaya
hidup bercinta harus saling setia
tanpa keduanya, suatu saat kau mati tanpa saksi
۞۞۞
Hidup Puisi Hidup
Tak sempat aku mempelajari keriuhan
Jiwaku terlanjur berkeliaran meninggalkan tubuhku
Orang-orang berjubah hitam sedang upacara pembakaran puisi
Tapi jiwaku tetap saja liar
Tak kubiarkan mereka menangkapnya
Segera kutinggalkan bumi tempat tergeletak syairku
Aku menuju jiwaku menyaksikan pementasan langit
Di sana bulan dan matahari berpapasan lantas saling menegur di gerhana
Ah, biarlah kau tangkap puisiku, namun jiwaku tetap lepas dan berkepak
”jiwamu masih hidup!”
”puisimu tak pernah mati!”
tiba-tiba terdengar teriakan seorang bayi
ia membacakan mantra pada puisi
”hidup puisi, puisi hidup”
penyair selalu akan lahir
02-10-1996
۞۞۞
Bunga
Mungkin wangi tanah enggan bercerita padaku
Seperti para penari yang mengurai bebunyian
Atau salju musim dingin di wajahmu
Telah membuatku asing pada wangi bunga
Bungaku sayang…
Bolehkah aku pinjam sebuah malam yang khusuk
Akan kugunakan belajar pada taksu dewa tari
Seperti saat engkau mementaskan keakuanmu
Sehingga bisa kupilah warna-warnamu
Ingin kubacakan lagi sajak matahari jiwani
Yang mencadaskan anganku pada bunga-bunga
Meski belum ada kalimat sanggup mewakiliku
Warna bungamu telah memahat anganku
Pada malam yang rentah
Angin berbisik gelisah di cakrawala
Untukmu kutitipkan doa pengantar tidur
Semoga engkau paham makna menjadi bunga
Seperti aku menjadi sungai yang sabar mengalir
Bunga harapanku
Suatu saat, kelopak itu mengatup pelan menelan segenap kelelahan rinduku
Ramsis 2F 101, 13-11-1996
۞۞۞
Ode Buat Mawar
Aku rindu matahari di matamu yang menerbitkan fajar
Ketika kau usap embun di dedaunan
Terima kasih kepada mawar yang mengajarkan cinta, bisik kumbang
Sari yang dimuliakan setiap kembang
Inilah kuliah pertama tentang kesetiaan, bisikku lagi
Catatan manis halaman terakhir yang kita yakini
Aku mulai berbaring di pangkuan senja
Pada saat matahari merebahkan bayang-bayang mawar
Sebentar lagi kita mengejar pijar mimpi
Saat ini ada kembang yang bimbang
Sebab engkau masih kembang yang tak mampu menjelaskan keindahanmu
۞۞۞
Melati
Melati
Mestinya kau tak usah bertanya,
Sejak kapan engkau menjadi bunga
Setangkai kembangmu melengkapi warnamu
Meneguhkan harummu sebagai bunga
Melati
Mestinya kuncup itu terawat sepanjang musim
Sebab penjuru angin gemas mengelusmu
Mungkin engkau lelap dalam figura hati
Merangkai keindahan mimpi-mimpi
Kelopakmu kian mekar manja
Daun-daunmu lucu membelai cakrawala
Seekor kupu-kupu membacakan sajak
Sambil nyanyikan lagu-lagu bocah
Sebab itu melati yang manja
Pahamilah roh tarianmu
Gerak gemulai di atas jiwa
21-11-1996
۞۞۞
(,,,,,,,)
Bunuhlah semua rindu ini
Biarkan cinta itu menjadi bangkai
Jangan simpan jadi mummi
Atau menjadi fosil yang terpahat di dinding hati
Biarkan kenangan itu mengeras sendiri
Semua kita kuburkan dalam endapan kenangan
Dan kita hanya bisa berkirim salam
Palopo, 06-I0-I998
۞۞۞
Kangenku
Rasa kangen mengepungku tiba-tiba
aku tak bisa bergerak
anganku terpasung
angin malam menamparku
menyingkap jendela hati
membawa aroma tubuhmu
tapi,
titik gerimis amat cepat menegur kemarau
saat aku masih sangat kangen
23-II-l997
۞۞۞
Perahu Kertas
Melepas perahu kertasmu di pelabuhan hati
Terasa ada bayangmu yang dahsyat menghalau mimpi-mimpi mati
Engkau masih saja terpulas di atas karang
Tak ikhlas mengangkut rindu-rinduku
Tak sanggup melautkan gelisahku
Lepaskan kembara hati menuju pulau entah
Tanpa doa selamat jalan dari mama
Bahkan bekal perjalanan hanya sepenggal cinta
Tanyakan pada sauh, mungkinkah kita akan segera berlabuh, atau kapan kita akan karam
”di mimpi, kau menciumku,” bisikmu,
tapi justru ketika aku mulai melupakanmu
Kusergap cepat bekas nafasmu yang menempel di telingaku
”semoga ini bukan mimpi-mimpi kertasmu”, doaku melubangi jantungmu
Perahu kertasku melaju tinggalkan dermaga mimpi-mimpi gelisah
Disusurinya got-got hitam berlimbah
Sebab disana tak ada laut yang menerima
Juga perahuku cuma perahu-perahu kertas
Juga memang kelemahan dan kekalahan selalu mengoyakku
Dan aku kian letih mendayung kepastian
Sehingga aku berlabuh sejenak memahami kecengengan ini
Wajo, 10-10-1996
۞۞۞
Pernikahan
Pernikahan bathin kita telah usai tanpa kemewahan padahal Tuhan sendiri yang hadir disana menjadi saksi
Pernikahan raga justru harus lebih sederhana sebab hanya manusia, materi, dan fitnah saksinya
۞۞۞
Warna tak Berwarna
Masih ada sebutir kejujuran yang sanggup kupahami
Pada bola matamu yang tajam lepas
Disana ada goresan luka jadi prasasti
Mungkinkah kau jadikan sebait puisi bebas
Masih ada perbincangan yang ingin kita pahami
Ketika kau luruh terdiam dengan pulas
Sampai pilihan kita dirampas gegap kampanye parpol
Mungkinkan kejujuran cerita kita segera akan tuntas
Masih ada keinginan yang belum sempat disepakati
Terlanjur palu kebijakan mengetuk hati
Engkau beranjak pergi menolak interupsi
Padahal cinta kita masih disekap jeruji
”besok aku mulai haid,” ucapmu lugu
tiba-tiba aku disergap bisu
”berapa hari biasanya?” ketololanku menamparmu
aku membayangkan warna-warni bendera yang menawarkan perbedaan itu
gugusan warna itu mengaburkan indahnya sendiri
dalam kitab kesadaran kita saling mencaci
masing-masing punya yel-yel, jingle dan lagu mars sendiri-sendiri
selain kepentingan, tak ada warna kejujuran mencoba menepi
۞۞۞
Surat Cinta dari Kelana
Mengepakkan sayap-sayap hati
Kelana merajut hidup hendak kemana
Dimana sehelai cinta tempatku luruh
Dimana seranting hati bertengger rindu
Padamu, pernahkah kau jelang bukit sunyi yang melantunkan nada cintaku
Padaku, ada sesuatu yang sederhana hendak singgah berlabuh
Kelana, kehadiranmu menyiratkan warna
Terasa ada sisi lain yang cukup berarti
Sesuatu yang lirih menyentak
Tuhan, jika hari ini ada bahagia, maka tolong kirimkanlah semua untuk kami
۞۞۞
Ih !
Aku tak sempat mengira-ngira lagi
Tiba-tiba langit menghempasku kesini
Ih !, bahkan nyaris aku tak mengenali arti senyummu yang menamparku berkali-kali
Aku belum mabuk dengan racunmu
Dan pasti kumuntahkan bersama ususku
Tak kuijinkan diriku mencintaimu
Kelak pasti kau kan menangis melukaiku
Berkelebat aroma wangi tubuhmu
Saat kulemparkan bangkai mawar kepadamu
Di depan sini kau jinak malu-malu
Di belakang pintu sembunyi keliaranmu
Ih, aku hanya mau mencintaimu seperti mawar saja
Menjagamu saat cinta masih berseri
Dan saat engkau mulai layu, maaf jika aku mencampakkanmu lewat jendela
(ih, memang kau hanya seekor kucing saja)
۞۞۞
Surat Cinta Terlipat
Ketika cericit keluarga gelatik hampir tiada
Tertelan kelopak senja yang mengatup
Segeralah wartakan pada mayapada
Tentang sebuah cerita yang kita jalani
Telagaku, teduhkan rasa yang ada
Jelaskan pula pada bianglala hati
Dimanakah sekarang kita berada
Agar arah jejak kita tak ragu menanti
”Maafkan aku bila lupa berada di sisimu”
kau tampak lebih dewasa dari purnama
kau jelaskan makna kebersamaan
dan aku hanya bisa ngangguk bagai bocah dicerca petuah mama
mestinya waktuku padamu kuserahkan penuh sehingga aku yang tertatih bisa sempurnakan diri
saat aku rindu berlabuh di beranda hatimu tatkala kujenuh
“Bersamamu, aku merasa terlindungi“, bisikku ragu-ragu
nada riangmu seperti mendekap damai
sebuah wilayah suci yang tak terjamah
sehelai hati terlipat rapi
21-04-1997
Matamu
jangan hentikan degup di jantung
dengan sayap kalimatmu yang membius
kutakut jadi kecanduan dan terkatung
padahal aku sudah sangatlah serius
jangan membunuhku teramat cepat
menikamku dengan tajamnya matamu
biarlah kupilih waktu yang paling tepat
sebab aku tak berani menentang tatapmu
jangan buatku tak berdaya seperti patung batu
kau katup rindu di dalam peti
lantas mati sewaktu-waktu
didera pengharapan bagai cemeti
۞۞۞
Aku Lupa
Kudengar jerit guruh kalender
Menepis gerimis yang terus meringis
Saat hendak kutiup lilin yang pernah kau nyalakan
Aku lupa, ini hari apa
Kumerangkak di kegelapan rindu
Entah kau telah ditelan cahaya
Yang kudapatkan hanya sebutir puisi
Aku lupa, judulnya apa
I0-06-I998
۞۞۞
Syair Titik Koma
Syair-syair bersayap bangunkan puisi
Buramkan pesona pemilik cinta yang biru
Langit menjadi samar terserap ilusi
Pujangga merana dengan luka yang haru
Kalimat indahnya terdiam di titik koma
Kata-katanya terhenti pada makna berkarat
Terasa kiamat mengiris luka sebuah nama
Puisi yang patah membuat cinta makin sekarat
Harapan cinta menjelma syair yang geram
Wajah-wajah cinta jadi imagi yang seram
Rindu terpecah dan kemudian karam
Sebait doa pun tercium bau haram
Langit meretak tak meniriskan tinta pena
Duka merebak menggurat bumi
Sejuta matahari padam gelapkan batin semesta
Kita meraba hati tuk tegakkan kata nurani
Kalau ada kata terangkai hinggap di aksara
Bilaslah hati dengan setitik tinta
Kalau ada rindu terluka hingga sengsara
Tunggulah esok tuhan mengirim cinta
03-09-1995
۞۞۞
Dan Sajakku pun Menangis
dinda
masih terbilang hari-hari yang tersipu-sipu
yang membuatku aneh dan kehilangan ruang logika
yang mengajarkan kitab suci dengan ayat-ayat cinta
dengan hati yang tertegun dalam diam
dengan kata-kata sederhana
dengan bahasa seadanya
dengan kalimat yang susah terucapkan
aku hanya bis bersajak untukmu dinda
dan sajakku pun mengalir
dinda, tiap kali kusebut namamu
kerinduan membelah bilik jantungku
sampai keringat cintaku menetes tak henti
cintamu berhembus roh pada jasadku
cintamu ngalir di darah, di tulang dan di ruang khayal
tapi tidak di materi, tidak dipandangan atau super ego
mungkin saja ia ada bersembunyi di sajakku,
dan sajakku pun tersedak
dinda
setelah cinta kau pahat di ketakberdayaan ini
tiba-tiba aku kehilangan jejakmu
aku yang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa
kalah menghadapi musim yang menawarkan bencana cinta
maka aku gagal menjadi yang terbaik untukmu
aku hanya bisa berpuisi untukmu
dan sajakku pun menderas
dinda,
saat kaum menikamku dengan benci
aku pun hanya mengalirkan sajakku
dan sajakku pun menangis
mungkin ini sajak terakhirku
12-10-1995
۞۞۞
Rambutmu
ditepi malam yang rentah
terkapar bayangmu meremas-remas sunyi yang sering kutampik karena cintamu yang sulit kupahami
sehari kau menggembirakanku
kau hidangkan pipimu lagi untuk aku ciumi dengan amat lahap sehingga genggamanku betah lagi di jemarimu
di sudut kota yang keji
sadis kabarmu tampar jiwaku
bagai teror yang mengepung jiwaku
ketika kau membagi cinta tanpa berdosa
semalam aku bermimpi lagi
rambutmu yang wangi telah rontok
matamu yang cemerlang menjadi rabun
dan engkau sendiri mengerikan bagai hantu
akh, aku ingin berlari sejauh mungkin
meninggalkan dirimu sang pendusta
walau dengan sisa kekuatan yang rapuh
۞۞۞
Juni
Juni itu
Awal usia baru
Ada getar nafas menderu
Sesaat lagi usia menyapa
Sesaat lagi dosa terpintal
Sesaat kemudian aku menjadi tua
Juni itu
Engkau tak tahu
Kapan aku berakhir
Sebab juga aku tak tahu
Kapan engkau selesai
Sesaat lagi ada teman
Sesaat kemudian jadi sendiri
Siapa pun akan mati
10-06-1998
۞۞۞
Luruh
yang luruh dibawah matahari
yang enyah ditampar angin
saat bianglala matamu melukis warna
tapi
gerai rambutmu selalu saja menutupi
menorehkan teka-teki yang kabur
“mungkinkah kita menjaga awan”
saat itu kita terdiam
dan laut kita acuhkan
mungkin hatimu telah luluh
tapi aku terlanjur luruh digenggamanmu
Sajoanging, 23-09-1996
۞۞۞
Sajak Merdeka
Degup Jantungmu berdetak
Terdengar mantramu seperti sajak
Mirip tangis kelahiran bayi tamak
Sebelum kuburan ditekan tanah tua
Kau masih sempat bertanya
Kapan kita merdeka?
۞۞۞
Teror
(kepada Osama Bin Laden)
siapakah teror itu?
Dia yang selalu bersembunyi di dalam daging
Dia yang dibuat seram dalam bayangan kita
Darah dan nafasnya adalah api dan asapnya
Siapakah namanya teror itu?
Dia yang selalu dituduh tanpa logika
Dia adalah ketakutan kita
lihatlah keangkuhan Amerika meleleh
disana jiwa-jiwa ditimbun dalam tumbal
menara kembar WTC dan gedung persegi lima Pentagon
telah menjadi kuburan dan nisan black-september
lihatlah kepanikan Amerika mengepul
sampai lupa menyalahkan dirinya sendiri
siapa yang harus memikul sebagian beban dosa
siapa yang selalu hembuskan badai dendam sesama
meski jawabannya tak pernah ada
tapi, puing-puing gedung 110 lantai dan gedung pertahanan yang disangkanya kuat
telah menjadi kuburan yang pasti
September
۞۞۞
Hantu
Ada berjuta hantu bersarang di kepalaku
Mereka seolah melahap isi otakku
Merampas segenap isi pikiranku
dan aku dikejar dalam sunyi
aku mendengar sorakan hantu di telingaku
mereka terbahak-bahak penuh kemenangan
taringnya menjulur hendak menelanku
dan aku disergap kecurigaan dalam diam
hantu hantu itu berpesta di atas kekalahanku
seraya menyanyikan lagu kematianku
mereka membahas kemenyang di atas kuburanku
dan membaca sajak-sajak dosa kehidupan
kemana lagi aku mesti bersembunyi
sedanglkan dunia telah ikut mengutuk
dan aku kian letih untuk bertahan
menjalani segala hukuman
Tuhan, berikan aku kekuatan
untuk mengusir hantu yang membelenggu
agar hidup dan mati ini menjadi tenang
05-10-2001
۞۞۞
Angkara
seperti raksasa yang kejam
angkara murka menelan jantungku
badai datang silih berganti
melumat segenap harga diriku
orang-orang yang akrab di sekelilingku
dikebiri satu demi satu
jeritan kepedihannya menjadi lolucon
bagi mereka yang memusuhiku
aku tak tahu, kemana lagi aku bersembunyi
bayang-bayang kecurigaan terus mengepungku
kawan atau lawan sama-sama memusuhiku
seolah caci maki memenuhi telingaku
kulit wajahku sudah mengelupas
rasa bersalah dan kekalahan menghantuiku
aku semakin kerdil tanpa bentuk
terjungkal dalam permainan yang kotor
ke dunia mana aku mesti sembunyi
menghindari wajah-wajah yang cibir
mungkin aku membayangkan mati
۞۞۞
Doa dan Harapan
seperti pemburu aku berlari
mengejar bayang-bayang pelangi
menyusuri belantara kota
dan harapan seperti fatamorgana
dan
harapan tak pernah meredup
meski onak duri mencemooh
hingga kemarau menjelma gerimis
terus mencari di semak belukar
atau pada ketinggian bukit
hingga ke kedalaman lautan
peduli dengan gelar mulia duniawi
yang penuh kamuflase
sebab hidup harus direbut sendiri
bukan diberikan dengan sukarela
sebab itu
geliat doa dan harapan
selayaknyalah terus bergandengan
setiap saat
۞۞۞
Tegar
kepada ibu dari anak-anakku
lihatlah matahari mengelupas kulit dagingku
betapa kejamnya dunia memperlakukan
darah yang merah telah memutih
padahal cintaku ihlas menjadi atap rumah tangga
mengayomimu dari terik dahaga
doakan aku wahai kekasih jiwa
agar jiwa ragaku tegar memikul kewajiban
setapak pun langkah tak boleh mundur
terus berdiri menghalau badai
menopang tiang-tiang keluarga kecil kita
kepadamu cinta yang putih
jangan dengar kabar kegagalan dan kekalahan
jangan anggap tuhan tak dengar keluhmu
biarlah aku yang menagih-Nya dengan kekuatan tanganku
bisikkan saja pada anak-anak kita bahwa semua kasih sayang bermuara padanya.
04-10-2001
۞۞۞
Mahasiswa
Mahasiswa seperti arus yang tak pernah diam
Gerakannya dahsyat menembus ke pori bumi
Namun gelombangnya bukanlah tsunami yang sarat bencana
Arusnya hanyalah riak-riak damai yang mendorong perahu kecil
Dan riak kecil itu mampu meruntuhkan keangkuhan batu karang
Mahasiswa seperti kekuatan sejuta matahari
Pertaliannya utuh dalam gugus gunung-gemunung
Perjuangannya selapang samudera
Semangatnya menyala di atas tungku peradaban
jiwa mudanya adalah sumber api kekuatan
dan bahasa moral yang mengepul dari ucapannya yang lugas adalah spanduk perjuangannya.
Mahasiswa seperti warna-warni jas almamater yang kekuatan benangnya menyatu dalam selembar kain
Terkadang pula langkah dan jalannya susah dimengerti
Seperti catatan pada kertas tipis yang mudah robek, luruh diatas logika yang membatu
Dan teori-teori usang yang membusuk di mulutnya, terjebak pada makna berkabut
Mahasiswa jangan berhenti acungkan tanganmu karena engkau adalah gelorah semangat yang tak pernah mati
Karebosi, 21-05-1998
۞۞۞
Negeri Merdeka
inilah negeri impian itu
negeri yang selalu kita rindukan
ada laut dan ribuan pulau tempat berlabuh
disana kita berkasih-kasih dalam cinta anak bangsa
damai, cinta, biru,
maka kembalilah kau disini
di negeri tanpa pembredelan, tanpa pencekalan, tanpa penjara
disini kita bebas bicara dan berfikir merdeka
inilah negeri kecil itu
negeri indah yang pernah hilang di petamu
disini kita menjaga nafas kehidupan dalam pesta
tak ada saling curiga atau dendam tersisa
maka pulanglah
alamatkan cintamu di negeri ini
disini aku menunggumu menikmati anugerah agung itu
inilah negeri biru itu
negeri bertabur permata dan lautan mutiara
negeri tanpa tirani, tanpa monopoli dan intimidasi
disini hukum berdiri tegak di keadilan
tak ada penjajahan, penindasan dan kesewenangan
kecuali simfoni damai dan gita harmoni para pujangga negeri
hanya damai, hanya cinta, hanya biru
maka kembalilah di negeri ini wahai generasi persaudaraan
hanya kamu, Indonesia
yang bersemayam di negeri cintaku
menghuni seluruh wilayah nurani
biarkan kami bebas mencintaimu
Tamalanrea, 19-10-1995
۞۞۞
Oeh, Makassar
Ada kota bersinar memantik bara di hati saat engkau masih malu berbaju bodo’
Jati diri nyaris saja terkapar bagai kokok ayam jantan yang tergilas abad-abad tidur
Padahal sudah kuduga engkau tak setegar lagi Fort Rotterdam
Engkau bunga-bunga Makassar perlahan menutup kelopak sejarah
Meski tak rela melepas kenangan yang membenamkan sunset di Losari
Sukma anging mammiri meredup ditelan cerobong asap Makassar
Daeng-daeng dan ana’dara berebut kesepian budaya leluhur
Kenangannya tersisa sepenggal ciuman pertama kekasih yang tersimpan dalam sepotong sajak pisang epek
Namun cinta hanya bisa terpejam di atas keangkuhan pembangunan
Ombak tertidur dipangkuan pantai yang semakin mengecil
Ikan-ikan pun tak punya ruang untuk mementaskan tari pakarena menyambut nelayan
Bahkan phinisi tak pernah bertambat mesra di tanah leluhur ini
Disana kekasih bersambut lagu anak laut dan secangkir ballo
Makassar, dimanakah keakuanmu,
Tak terdengar lagi pekik rewamu,
Tak berkobar lagi semangat ewako di dadamu
Semua tinggal legenda dalam alunan sinrilik yang menangis
Semua tertikam sendiri dengan peradaban baru
Sebab mata badik tak sanggup menjaga jati diri dan falsafah siri’
Makassar, aku rindu menjemput bulan di ranting akasiah
Bawalah kekasihku kembali disini sebelum terbakar lampu diskotik
Akan kuhitung-hitung jejak yang hilang, seperti gambar pantai dan peta karebosi bahkan kubah mesjid raya
Semangkuk coto makassar tak setimpal harga tanah tempat kau tancapkan sebatang monumen
Tanpa disadari kita telah kehilangan makassar
Oeh, Makassar
Mungkinkah tersisa sepetak tanah leluhur untuk penguburanku?
۞۞۞
Kebangkitan Nasional
kebangkitan nasional
Makna apa yang bisa kupahami disana
Seabad kau ditunggu, seabad kau dirindu
Warna apa gerangan bisa kumengerti
Kebangkitan, sebuah nama yang hanya kukenal dalam lipatan sejarah
Kebangkitan, sebuah aroma yang mewangi dalam lembaran tanah air
Kebangkitan, sebuah titik awal tumbuhnya semangat nasionalisme
Tapi, makna apa bisa kupahami disana
Banyak kepalsuan membelenggu kebenaran,
Angka statistik direkayasa menutupi lubang korupsi
Sistem ekonomi menjadi pasar-pasar riba
Politik dan kekuasaan semakin mendurjana
Dan kesenjangan kemanusiaan kian menganga
Sampai dimana jejak-jejak kejayaan bisa diikuti
Bingkai sejarah itu telah menjadi fosil
Dimana pemimpin yang bijak sanggup memahami
Indonesia tertidur terkapar, terpuruk sepanjang abad,
Anak-anak negeri bangkit untuk saling menuding
Karena golongan, karena aliran atau karena partai yang berbeda
Yah, kebangkitan nasional, Makna apa yang bisa kupahami
Seabad kau dilahirkan, seabad kau dininabobokan
Indonesia yang ditegakkan di atas darah dan nyawa perjuangan adalah Indonesia yang dibangun di atas tumpukan utang
Kebanggaan apa bisa kukabarkan keseluruh jagat
Seabad kau ditunggu, seabad kau dirindu
Bangkitlah Indonesiaku
Berilah kami kesempatan untuk mengibarkan Merah Putih dengan tanganku
Makassar, 20 Mei 2008
۞۞۞
-